Di tepi hutan yang berdarah
ada pesan-pesan nenek moyang yang mulai pudar
di mana akar-akar tanah yang membentang
tertutup oleh debu dari besi dan plastik
kita adalah burung-burung yang kehilangan sayap
terbang di langit yang sempit,
di bawah kanopi yang sudah tak lagi hijau
melihat akar-akar kita diserahkan pada kekejian
sawit menjulang seperti menara-menara pelupa
mengubur kebun leluhur dalam tumpukan janji-janji manis
setiap daun adalah lembaran yang terbalik
di buku sejarah yang dipenuhi catatan dosa
di jalan yang kering dan membisu
ada jejak-jejak peluru yang terukur
di tanah yang dulu penuh harapan
kini menjadi lautan api yang tak terlihat
kami adalah penonton di panggungnya sendiri
melihat riuh gemerlap yang bukan milik kita
menjadi turis di tanah yang tercabik
di mana setiap sudut adalah bekas luka yang bersaksi
sungai-sungai kita, garis-garis kehidupan
menjadi cermin yang retak
merefleksikan wajah yang hilang dalam kerumunan
mengambarkan kesedihan yang tak terucapkan
namun, dibaliknya pelita malam
ada hati yang tetap menyala
kami adalah pelestari api di relativitas waktu
menjaga kenangan di tanah yang tak lagi kita miliki
pub-9703219827204705, DIRECT, f08c47fec0942fa0




No comments:
Post a Comment