Pagi
itu, langit masih berselimut embun ketika jarum jam perlahan merangkak menuju
angka delapan. Angin berhembus lembut, membisikkan semangat perjalanan panjang
kami berlima, rombongan PHW AMAN KALTENG: Yumero, Yuda, Efrain, Bang Kesiadi,
dan Bang Rinting. Hari Selasa, 10 September 2024, bukan sekadar tanggal biasa, tetapi
awal dari perjalanan yang membawa kami menuju lewu Tumbang Bahanei. Di sanalah, di tengah hutan adat yang
melambai seperti sejarah hidup, ritual Pamuhun Sahur akan digelar keesokan
harinya, di jantung sekretariat komunitas masyarakat adat lewu tersebut.
Pamuhun
Sahur bukan hanya ritual, melainkan sebuah panggilan jiwa, upacara yang
mengikat masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu simpul sakral. Bagi
masyarakat adat, ini adalah penghormatan kepada perjuangan yang sudah membakar
semangat mereka sejak tahun 2014. Kala itu, mereka memulai perjalanan tanpa
peta, mengukir peta sendiri dengan kaki-kaki yang kuat dan hati yang tegar.
Perjuangan mereka bukan sekadar soal batas tanah, melainkan klaim atas jiwa
yang selama ini terlupakan, dan kini setelah satu dekade, dunia akhirnya
mengakui hak mereka.
Momen
ini seperti bulan purnama yang muncul di tengah malam gelap, setelah lama
tertutup awan. Melalui keputusan Bupati Gunung Mas dengan nomor
100.3.3.2/344/2023, pengakuan atas tanah dan hutan adat seluas 5.110 hektar
diakui. Keputusan ini ibarat lentera yang menerangi jalan panjang yang telah
dilalui. Tidak hanya itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga turut
mengukuhkan dengan nomor SK.7918/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/8/2023, menegaskan
bahwa hutan adat Dayak Ngaju Lewu Tumbang Bahanei kini bukan sekadar mitos,
tetapi kenyataan yang diakui oleh pemerintah pusat.
Hari
itu, kami berjalan dengan hati yang ringan namun penuh hormat. Tumbang Bahanei
bukan hanya lewu di peta Kalimantan;
ia adalah museum hidup, tempat setiap pohon, setiap aliran sungai, dan setiap
embusan angin mengisahkan cerita yang tak pernah tercatat dalam buku sejarah.
Hutan ini bukan sekadar bentangan hijau, tetapi merupakan wujud dari keberadaan
spiritual masyarakat adat. Ia adalah paru-paru mereka, urat nadi kehidupan, dan
tonggak identitas yang tak tergantikan. Dengan pengakuan resmi atas hutan adat
ini, masyarakat Dayak di Tumbang Bahanei bisa bernapas lebih lega, meski
tantangan ke depan tetap membayang seperti awan kelabu di ujung cakrawala.
Di
lewu ini, ritual Pamuhun Sahur
menjadi pusat pertemuan antara manusia, alam, dan leluhur. Kami tak hanya
menjadi saksi, tetapi turut merasakan denyut kehidupan yang mengalir melalui
setiap detik ritual tersebut. Masyarakat dari desa-desa tetangga datang dengan
penuh sukacita, menggabungkan rasa syukur dan harapan di bawah atap langit yang
biru. Lima perwakilan dari Pengurus Harian Wilayah Aliansi Masyarakat Adat
Nusantara Provinsi Kalimantan Tengah turut hadir, membawa serta semangat
solidaritas yang kuat.
Pak
Hadi, seorang perwakilan dari Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kabupaten
Gunung Mas, naik ke podium. Ucapannya seperti petuah dari tetua yang bijak,
mengingatkan kami semua tentang peran Mantir Adat, penjaga yang tak hanya
melindungi hutan, tetapi juga warisan leluhur. Dalam pidatonya, ia berpesan
bahwa pengakuan ini bukan akhir dari perjalanan, tetapi awal dari tanggung
jawab yang jauh lebih besar. Mantir Adat di lewu
ini bukanlah sekadar gelar, melainkan tugas untuk menjaga hutan seperti menjaga
napas sendiri. Hutan ini adalah napas masyarakat adat, dan setiap helaannya
mengandung doa bagi generasi mendatang.
Ketua
Panitia Penyelenggara acara, seorang tokoh adat yang dihormati, berbicara
dengan suara penuh semangat. Setiap katanya bagaikan riak di permukaan air
tenang, perlahan, tapi terus menyebar hingga ke seluruh penjuru desa. Ia
bercerita tentang perjalanan panjang terbentuknya Aliansi Masyarakat Adat
Nusantara (AMAN), dan bagaimana masyarakat Tumbang Bahanei terlibat dalam
gerakan ini. “AMAN adalah kita,” katanya. “Suara yang dulu terpendam, kini menggema
di seluruh nusantara.”
Kisahnya
tentang mengikuti kongres di Kabupaten Tabelo beberapa tahun lalu begitu
menggugah. Ia mengaku tak tahu apa itu AMAN saat pertama kali mendengarnya,
tetapi setelah mendengar cerita dari para peserta kongres, ia mulai menyadari
bahwa AMAN adalah cahaya di tengah kegelapan, harapan bagi masyarakat adat yang
selama ini seperti batu karang tenggelam di dasar laut. Kini, batu itu telah
diangkat kembali ke permukaan, bersinar dengan cahaya perjuangan.
Pak
Dagik, salah satu tokoh masyarakat lainnya, kemudian angkat bicara. Suaranya
bagaikan ombak yang menghantam karang dengan keras, tetapi di balik kekuatannya
terdapat kelembutan harapan. Ia berbicara tentang pentingnya perjuangan
masyarakat adat untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka yang telah lama
direnggut. “Perjuangan ini tidak mudah,” katanya, “tetapi kami tidak pernah
menyerah.” Ia menekankan bahwa semangat kolektiflah yang membuat masyarakat adat
berhasil mempertahankan tanah leluhur mereka, meski berbagai tantangan datang
silih berganti.
Acara
ini tak hanya menjadi ritual, tetapi juga sebuah refleksi, sebuah momen untuk
kembali merenungi langkah-langkah yang telah diambil oleh leluhur sebelum
mereka. Penghormatan kepada para leluhur tidak hanya terlihat dalam doa-doa
yang dipanjatkan, tetapi juga dalam setiap langkah kaki yang menginjak bumi. Di
sini, di tengah hutan yang mereka perjuangkan, masa lalu dan masa kini bertemu
dalam harmoni yang sempurna.
Alfianus
Genesius Rinting, Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dari PHW
AMAN Kalimantan Tengah, dalam sambutannya mengingatkan kami semua tentang
pentingnya pemetaan hutan adat. Peta, katanya, bukan hanya sekadar garis-garis
di atas kertas, melainkan sebuah alat untuk melindungi warisan leluhur. “Peta
ini,” ujarnya, “adalah kompas kita dalam menghadapi badai masa depan.” Namun,
ia juga memperingatkan bahwa tantangan terbesar justru datang dari dalam, 70%
masalah yang menghancurkan masyarakat adat berasal dari dalam diri mereka
sendiri. Ia menekankan pentingnya persatuan, agar tak ada yang tergoda oleh
iming-iming uang atau kepentingan pribadi.
Acara
berakhir dengan rasa syukur yang mengalir seperti sungai di bawah sinar bulan.
Kami semua tahu, perjalanan ini belum usai. Tumbang Bahanei masih memiliki
tugas besar, melindungi hutan yang telah mereka perjuangkan, menjaga warisan
leluhur dari tangan-tangan yang rakus.
Malamnya,
setelah semua kegembiraan mereda, kami berlima duduk bersama dalam diskusi
tertutup. Udara malam yang sejuk menyelimuti percakapan kami tentang ancaman
yang menggantung di langit Tumbang Bahanei, sebuah informasi yang kami terima
tentang rencana penebangan hutan secara besar-besaran oleh pihak luar. Mereka
ingin merampas 75 hektar hutan yang telah diakui melalui perjuangan panjang.
Sungguh ironi, perjuangan yang telah dimulai sejak 2014, perjuangan yang
melibatkan keringat dan air mata, kini terancam hangus oleh godaan uang dan
kepentingan pribadi.
Kami
berdiskusi panjang lebar tentang bagaimana masyarakat harus bersatu, seperti
anyaman rotan yang kuat. Jika satu helai rapuh, anyaman itu akan terurai.
Masyarakat adat harus berani melawan, menjaga hutan yang bukan hanya tempat
mereka mencari nafkah, tetapi juga sumber kehidupan spiritual mereka. Sebab,
jika mereka tak bersatu, jika mereka tergoda oleh uang, maka hutan adat yang
telah mereka perjuangkan akan hilang, seperti abu yang tertiup angin.
Ritual
Pamuhun Sahur ini adalah simbol kemenangan, tetapi juga pengingat bahwa
perjalanan belum usai. Masyarakat adat Tumbang Bahanei harus terus berjuang,
menjaga agar lentera yang baru menyala ini tidak padam di tengah gelombang
tantangan. Bagi mereka, hutan bukan sekadar tempat, melainkan nyawa yang
mengalir dalam darah mereka, tak terpisahkan dari siapa mereka sebenarnya.
pub-9703219827204705, DIRECT, f08c47fec0942fa0




No comments:
Post a Comment