Informatif, edukatif, akurat dan terpercaya menyajikan informasi seputar filsafat, sosial, politik, pemerintahan, buku dan opini.

test pub-9703219827204705, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

9/20/2024

Lentera di Tengah Hutan: Menjaga Warisan Leluhur Melawan Godaan Eksploitasi

Suasana ngobrol santai saat di Lewu Tumbang Bahanei, (10/09/2024) di Sekretariat Komunitas Masyarakat Adat Tumbang Bahanei


Pagi itu, langit masih berselimut embun ketika jarum jam perlahan merangkak menuju angka delapan. Angin berhembus lembut, membisikkan semangat perjalanan panjang kami berlima, rombongan PHW AMAN KALTENG: Yumero, Yuda, Efrain, Bang Kesiadi, dan Bang Rinting. Hari Selasa, 10 September 2024, bukan sekadar tanggal biasa, tetapi awal dari perjalanan yang membawa kami menuju lewu Tumbang Bahanei. Di sanalah, di tengah hutan adat yang melambai seperti sejarah hidup, ritual Pamuhun Sahur akan digelar keesokan harinya, di jantung sekretariat komunitas masyarakat adat lewu tersebut.


Pamuhun Sahur bukan hanya ritual, melainkan sebuah panggilan jiwa, upacara yang mengikat masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu simpul sakral. Bagi masyarakat adat, ini adalah penghormatan kepada perjuangan yang sudah membakar semangat mereka sejak tahun 2014. Kala itu, mereka memulai perjalanan tanpa peta, mengukir peta sendiri dengan kaki-kaki yang kuat dan hati yang tegar. Perjuangan mereka bukan sekadar soal batas tanah, melainkan klaim atas jiwa yang selama ini terlupakan, dan kini setelah satu dekade, dunia akhirnya mengakui hak mereka.


Momen ini seperti bulan purnama yang muncul di tengah malam gelap, setelah lama tertutup awan. Melalui keputusan Bupati Gunung Mas dengan nomor 100.3.3.2/344/2023, pengakuan atas tanah dan hutan adat seluas 5.110 hektar diakui. Keputusan ini ibarat lentera yang menerangi jalan panjang yang telah dilalui. Tidak hanya itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga turut mengukuhkan dengan nomor SK.7918/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/8/2023, menegaskan bahwa hutan adat Dayak Ngaju Lewu Tumbang Bahanei kini bukan sekadar mitos, tetapi kenyataan yang diakui oleh pemerintah pusat.


Hari itu, kami berjalan dengan hati yang ringan namun penuh hormat. Tumbang Bahanei bukan hanya lewu di peta Kalimantan; ia adalah museum hidup, tempat setiap pohon, setiap aliran sungai, dan setiap embusan angin mengisahkan cerita yang tak pernah tercatat dalam buku sejarah. Hutan ini bukan sekadar bentangan hijau, tetapi merupakan wujud dari keberadaan spiritual masyarakat adat. Ia adalah paru-paru mereka, urat nadi kehidupan, dan tonggak identitas yang tak tergantikan. Dengan pengakuan resmi atas hutan adat ini, masyarakat Dayak di Tumbang Bahanei bisa bernapas lebih lega, meski tantangan ke depan tetap membayang seperti awan kelabu di ujung cakrawala.


Di lewu ini, ritual Pamuhun Sahur menjadi pusat pertemuan antara manusia, alam, dan leluhur. Kami tak hanya menjadi saksi, tetapi turut merasakan denyut kehidupan yang mengalir melalui setiap detik ritual tersebut. Masyarakat dari desa-desa tetangga datang dengan penuh sukacita, menggabungkan rasa syukur dan harapan di bawah atap langit yang biru. Lima perwakilan dari Pengurus Harian Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Provinsi Kalimantan Tengah turut hadir, membawa serta semangat solidaritas yang kuat.


Pak Hadi, seorang perwakilan dari Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kabupaten Gunung Mas, naik ke podium. Ucapannya seperti petuah dari tetua yang bijak, mengingatkan kami semua tentang peran Mantir Adat, penjaga yang tak hanya melindungi hutan, tetapi juga warisan leluhur. Dalam pidatonya, ia berpesan bahwa pengakuan ini bukan akhir dari perjalanan, tetapi awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. Mantir Adat di lewu ini bukanlah sekadar gelar, melainkan tugas untuk menjaga hutan seperti menjaga napas sendiri. Hutan ini adalah napas masyarakat adat, dan setiap helaannya mengandung doa bagi generasi mendatang.


Ketua Panitia Penyelenggara acara, seorang tokoh adat yang dihormati, berbicara dengan suara penuh semangat. Setiap katanya bagaikan riak di permukaan air tenang, perlahan, tapi terus menyebar hingga ke seluruh penjuru desa. Ia bercerita tentang perjalanan panjang terbentuknya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), dan bagaimana masyarakat Tumbang Bahanei terlibat dalam gerakan ini. “AMAN adalah kita,” katanya. “Suara yang dulu terpendam, kini menggema di seluruh nusantara.”


Kisahnya tentang mengikuti kongres di Kabupaten Tabelo beberapa tahun lalu begitu menggugah. Ia mengaku tak tahu apa itu AMAN saat pertama kali mendengarnya, tetapi setelah mendengar cerita dari para peserta kongres, ia mulai menyadari bahwa AMAN adalah cahaya di tengah kegelapan, harapan bagi masyarakat adat yang selama ini seperti batu karang tenggelam di dasar laut. Kini, batu itu telah diangkat kembali ke permukaan, bersinar dengan cahaya perjuangan.


Pak Dagik, salah satu tokoh masyarakat lainnya, kemudian angkat bicara. Suaranya bagaikan ombak yang menghantam karang dengan keras, tetapi di balik kekuatannya terdapat kelembutan harapan. Ia berbicara tentang pentingnya perjuangan masyarakat adat untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka yang telah lama direnggut. “Perjuangan ini tidak mudah,” katanya, “tetapi kami tidak pernah menyerah.” Ia menekankan bahwa semangat kolektiflah yang membuat masyarakat adat berhasil mempertahankan tanah leluhur mereka, meski berbagai tantangan datang silih berganti.


Acara ini tak hanya menjadi ritual, tetapi juga sebuah refleksi, sebuah momen untuk kembali merenungi langkah-langkah yang telah diambil oleh leluhur sebelum mereka. Penghormatan kepada para leluhur tidak hanya terlihat dalam doa-doa yang dipanjatkan, tetapi juga dalam setiap langkah kaki yang menginjak bumi. Di sini, di tengah hutan yang mereka perjuangkan, masa lalu dan masa kini bertemu dalam harmoni yang sempurna.


Alfianus Genesius Rinting, Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dari PHW AMAN Kalimantan Tengah, dalam sambutannya mengingatkan kami semua tentang pentingnya pemetaan hutan adat. Peta, katanya, bukan hanya sekadar garis-garis di atas kertas, melainkan sebuah alat untuk melindungi warisan leluhur. “Peta ini,” ujarnya, “adalah kompas kita dalam menghadapi badai masa depan.” Namun, ia juga memperingatkan bahwa tantangan terbesar justru datang dari dalam, 70% masalah yang menghancurkan masyarakat adat berasal dari dalam diri mereka sendiri. Ia menekankan pentingnya persatuan, agar tak ada yang tergoda oleh iming-iming uang atau kepentingan pribadi.


Acara berakhir dengan rasa syukur yang mengalir seperti sungai di bawah sinar bulan. Kami semua tahu, perjalanan ini belum usai. Tumbang Bahanei masih memiliki tugas besar, melindungi hutan yang telah mereka perjuangkan, menjaga warisan leluhur dari tangan-tangan yang rakus.


Malamnya, setelah semua kegembiraan mereda, kami berlima duduk bersama dalam diskusi tertutup. Udara malam yang sejuk menyelimuti percakapan kami tentang ancaman yang menggantung di langit Tumbang Bahanei, sebuah informasi yang kami terima tentang rencana penebangan hutan secara besar-besaran oleh pihak luar. Mereka ingin merampas 75 hektar hutan yang telah diakui melalui perjuangan panjang. Sungguh ironi, perjuangan yang telah dimulai sejak 2014, perjuangan yang melibatkan keringat dan air mata, kini terancam hangus oleh godaan uang dan kepentingan pribadi.


Kami berdiskusi panjang lebar tentang bagaimana masyarakat harus bersatu, seperti anyaman rotan yang kuat. Jika satu helai rapuh, anyaman itu akan terurai. Masyarakat adat harus berani melawan, menjaga hutan yang bukan hanya tempat mereka mencari nafkah, tetapi juga sumber kehidupan spiritual mereka. Sebab, jika mereka tak bersatu, jika mereka tergoda oleh uang, maka hutan adat yang telah mereka perjuangkan akan hilang, seperti abu yang tertiup angin.


Ritual Pamuhun Sahur ini adalah simbol kemenangan, tetapi juga pengingat bahwa perjalanan belum usai. Masyarakat adat Tumbang Bahanei harus terus berjuang, menjaga agar lentera yang baru menyala ini tidak padam di tengah gelombang tantangan. Bagi mereka, hutan bukan sekadar tempat, melainkan nyawa yang mengalir dalam darah mereka, tak terpisahkan dari siapa mereka sebenarnya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot

PAGES